Selasa, 20 Desember 2011
Pesawat Latih Jatuh
Pesawat latih jenis Cessna milik Wings Flying School (WFS), anak usaha Lion Air, jatuh ditepi pantai Cirebon, Jawa Barat, kemarin (19 Desember 2011). Insiden itu membuat pesawat rusak berat. Terutama dibagian depan dan ekor. Untung dua penumpangnya selamat.
Hingga saat ini, badan pesawat masih dibiarkan teronggok di pinggir pantai dan dijaga aparat keamanan.
"Badan pesawat secara fisik sepertinya tidak banyak mengalami kerusakan. Itu tidak jatuh, tetapi pendaratan darurat." ujar Edward selaku Direktur Utama Lion Air
Lokasi jatuhny pesawat berada di Desa Bungko, Kabupaten Cirebon. Kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Bingkai pesawat sengaja tidak di utak-atik untuk memudahkan proses penyelidikan. Dan secara aturan pesawat yang baru mengalami kecelakaan tidak boleh dipindah-pindah sebelum KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) atau petugas berwajib datang.
Edward sekalu Direktur Utama berharap kecelakaan tersebut tidak membuat masyarakat berasumsi negatif terhadap Wings Air atau Lion Air. Sebab pesawat yang celaka itu hanyalah pesawat latih yang memang setiap hari digunakan utuk melatih siswa WFS di Cirebon
Duka Korea Utara
Sabtu 17 Desember 2011, berita duka dirasakan seluruh rakyat korea utara, Kim Jong Il yang berusia 69 tahun meninggal dunia dalam sebuah perjalanan kereta api karena kelelahan fisik setelah bekerja terlalu keras untuk memberi pengarahan di lapangan.
Berita kematian Kim Jong Il disampaikan secara haru di stasiun televisi milik pemerintahan korut. Dengan menggunakan pakaian serba hitam, pembaca berita mengumumkan berita kematian ini dengan berlinang air mata.
Kim Jong Il dikatakan meninggal dunia dalam kereta ketika hendak menuju suatu tempat. Dia kala itu akan bertugas memberikan petunjuk bagi orang-orangnya di lapangan. Sebelumnya, Jong-il juga pernah terkena stroke pada 2008 lalu, dan sempat absen beberapa bulan.
Beberapa bulan lalu, Jong-il telah menunjuk putra bungsunya Kim Jong-un, yang berusia 20an, sebagai penerus rezim komunis Korea Utara. Kematian Jong-il ini akan meninggalkan duka mendalam di tengah-tengah rakyat Korea Utara.
Menjabat sejak 1994 menggantikan ayahnya Kim Il Sung, sosok Kim Jong Il dianggap seperti dewa oleh rakyat Korea Utara. Hal ini berkat kerja propaganda rezim itu yang diterapkan pada seluruh rakyat sedari mereka kecil.
Tiga Megaproyek Jalan Jadi Prioritas Tahun 2012
Pemerintah berencana menggeber sejumlah proyek besar di tahun depan. Dari 73 proyek senilai
Rp. 359,1 triliun, pemerintah memprioritaskan tiga proyek.
Pertama, jalan lintas Sumatera sepanjang 1.580 kilometer dengan investasi senilai Rp 55 triliun.
Dua, proyek jalan Trans Jawa dengan inventasi Rp 51,64 triliun dan, Ketiga jalan Trans Kalimantan dengan total investasi sebesar Rp 3,85 triliun.
Dengan dana pemerintah yang belum mencukupi, pemerintah berniat menggandeng swasta. Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Ailiani menambahkan bahwa tahun depan pemerintah akan mendahulukan proyek pembangunan jalan lintas koridor ekonomi. Sebab, meski proyek ini sudah lama direncanakan, belum ada swasta yang tertarik pada proyek-proyek infrastruktur pemerintah itu.
Makanya, untuk memancing investor swasta bersedia masuk dan menggarap proyek tersebut, pemerintah akan memberikan sejumlah insentif. Rencananya bentuk insentif pemerintah ini akan ditetapkan dalam sidang kabinet pada besok Kamis (22 desember 2011). kata Aviliani.
Opsi Insentif itu dapat berupa penundaan pajak penghasilan (PPh) badan atau pengurangan pajak pertambangan nilai (PPN). Saat ini pemerintah masih mengkaji insentif. "insentif bisa mirip keringanan pajak alias tax allowance".
Pemerintah optimis dapat memulai melaksanakan proyek infrastruktur jalan tahun depan. Sebab, Undang-undang pengadaan tanah untuk kepentingan umum sudah disahkan dengan harapan dapat mempermudah pelaksanaan proyek ini.
Rp. 359,1 triliun, pemerintah memprioritaskan tiga proyek.
Pertama, jalan lintas Sumatera sepanjang 1.580 kilometer dengan investasi senilai Rp 55 triliun.
Dua, proyek jalan Trans Jawa dengan inventasi Rp 51,64 triliun dan, Ketiga jalan Trans Kalimantan dengan total investasi sebesar Rp 3,85 triliun.
Dengan dana pemerintah yang belum mencukupi, pemerintah berniat menggandeng swasta. Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Ailiani menambahkan bahwa tahun depan pemerintah akan mendahulukan proyek pembangunan jalan lintas koridor ekonomi. Sebab, meski proyek ini sudah lama direncanakan, belum ada swasta yang tertarik pada proyek-proyek infrastruktur pemerintah itu.
Makanya, untuk memancing investor swasta bersedia masuk dan menggarap proyek tersebut, pemerintah akan memberikan sejumlah insentif. Rencananya bentuk insentif pemerintah ini akan ditetapkan dalam sidang kabinet pada besok Kamis (22 desember 2011). kata Aviliani.
Opsi Insentif itu dapat berupa penundaan pajak penghasilan (PPh) badan atau pengurangan pajak pertambangan nilai (PPN). Saat ini pemerintah masih mengkaji insentif. "insentif bisa mirip keringanan pajak alias tax allowance".
Pemerintah optimis dapat memulai melaksanakan proyek infrastruktur jalan tahun depan. Sebab, Undang-undang pengadaan tanah untuk kepentingan umum sudah disahkan dengan harapan dapat mempermudah pelaksanaan proyek ini.
Senin, 19 Desember 2011
Aktifitas Gunung Ijen Meningkat
Aktivitas gempa tremor dangkal dan gempa vulkanik Gunung Ijen (2.386 mdpl) terus meningkat, bahkan gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Bondowoso-Banyuwangi, Jatim, itu statusnya naik dari Waspada menjadi Siaga.
Berdasarkan rekaman seismograf di Pos Pengamatan Gunung Api Ijen di Desa Taman Sari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, gempa tektonik itu bisa dirasakan hingga 3 kilometer dari Kawah Ijen, pada hari Minggu 18 desember 2011 sekitar pukul 10 malam.
Gempa yang terjadi tiga kali itu dapat dirasakan warga Kecamatan Sempol, Bondowoso. Gempa tektonik itu diikuti gemuruh suara dari kawah membuat warga yang ingin menebang pohon milik kebun Blawan PTPN XII ketakutan.
Gempa tektonik lokal merupakan fenomena baru dalam status Ijen. Sebelumnya, yang terdeteksi hanya gempa tremor dan vulkanik. Menurut Kepala Sub Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat Badan Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan, pusat gempa tektonik lokal itu tidak jauh dari Paltuding.
Status siaga Ijen membuat 55KK warga dusun cemas. Warga dusun menyatakan siap sewaktu-waktu dievakuasi. Terkait status Siaga Ijen, jajaran Pemkab Bondowoso dan Muspika Sempol kemarin (Senin, 19 Desember 2011) memetakan daerah terdampak bencana dan rencana evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi letusan.
Pihak PVMBG beserta muspida dan muspika melukan Rakor pada senin kemarin (19/12). Mereka menyatakan ada tiga kawasan rawan bencana antara lain radius 1,5km dari kawah ijen, 6km, dan 8km. Aktifitas baik pendakian dan pendakian telah dihentikan.
Sabtu, 17 Desember 2011
John F Kennedy # Final
Namun semua itu berakhir pada tanggal 22 November 1963. Pembunuhan JFK adalah duel hidup dan mati antara konstitusi Amerika Serikat dengan bisnis bernilai ratusan milyar Dollar, yang dimenangkan oleh pihak kedua. Dibawah tekanan dari para kontraktor pertahanan, pemilik perusahaan minyak, dan bankir-bankir, lingkar dalam militer dan intelijen AS melakukan perlawanan sengit dalam sebuah pertaruhan yang berakhir dengan kemusnahan JFK. Semua sudah diatur. Tidak perlu mengucapkan kata kunci seperti, “JFK harus mati”, JFK telah mati semenjak ia mencoba mengganggu sinergi yang telah lama tercipta dalam persekutuan harmonis antara para raksasa bisnis dengan para pengambil keputusan di struktur kekuasaan Amerika, yang telah ada sejak batu pertama pendirian Amerika diletakkan oleh George Wahington. Dengan merubah rute parade, meminimkan perlindungan keamanan untuk presiden, mengutus FBI dan kepolisian kota Dallas untuk mengacaukan penyelidikan, memsensor otopsi jenazah, membentuk Komisi Kerja Warren untuk menutupi jejak, mempengaruhi media massa untuk tidur siang, ini semua adalah kudeta dari manapun perspektifnya. Oswald adalah lapisan gula-gula yang dibagikan kepada bangsa Amerika dan dunia, untuk mengalihkan perhatian dari pihak yang menang, dan memastikan tidak pernah akan ada penyelidikan, penyidikan, ataupun penuntutan untuk apa pun, oleh siapa pun, di masa kapan pun kepada sang pemenang.
Pada hari yang sama dengan pemakaman JFK, presiden baru Lyndon Johnson beserta beberapa anggota kabinetnya bertemu dengan duta besar Amerika untuk Vietnam Henry Cabot Lodge untuk membicarakan nasib Vietnam, dengan wacana: “Vietnam adalah sebuah krisis yang harus tetap menjadi perhatian meskipun saat Amerika sedang berduka”. Hasil pertemuan disepakati bahwa Amerika akan dengan konsisten membantu pemerintah baru Vetnam dalam “War Against Communism” (terdengar familiar? War Against Terrorism?) dengan cara apapun, termasuk militer. Lalu pada tanggal 26 November 1963, tepat sehari setelah presiden JFK dimakamkan, tanpa menunggu lebih lama lagi, Lyndon Johnson menanda-tangani Memorandum Keamanan Nasional no.273 yang secara prinsip adalah 180 derajat kebalikan dari kebijakan JFK, yakni memerintahkan untuk dilakukannya operasi khusus intelijen di Vietnam Utara yang mutlak bertentangan dengan kebijakan JFK sebelumnya untuk memulangkan seluruh elemen militer AS dari Vietnam.
Lalu pada 8 Agustus 1964, operasi Black Ops merekayasa penyerangan dua kapal berbendera Amerika oleh kapal perang Vietnam Utara di teluk Tonkin dilepas pantai Vietnam. Yang menjadi landasan bagi Lyndon Johnson untuk meminta kongres agar segera memberinya kuasa legislatif untuk membawa kekuatan militer AS dan melakukan ‘serangan balik’ ke Vietnam Utara (sebagaimana layaknya ke Afghanistan dan Irak 37 tahun kemudian). Permintaan Lyndon Johnson langsung dikabulkan kongres Amerika, melalui ‘Dekrit Resolusi Teluk Tonkin’, dan invasi ke Vietnam dimulai. Pada tahun 1966 saja, Lyndon Johnson telah menghabiskan enam milyar dollar untuk membeli tambahan helikopter, jet tempur, bom dari Bell Helicopters, General Dynamics, dan berbagai macam senjata dari para kontraktor pertahanan lainnya. Lyndon Johnson juga mendapatkan tender senilai 1 milyar Dollar dari militer AS yang diberikan kepada perusahaan ‘Brown and Root’ milik keluarganya, berupa pekerjaan pengerukan teluk Cam Ranh di Vietnam untuk kepentingan militer.
Akhir cerita, 220 milyar dollar dihabiskan untuk anggaran pertahanan selama perang Vietnam berlangsung. 5000 unit helicopter hancur, dan 6,5 juta ton bom dijatuhkan di Vietnam. Pada tahun 1979, House Select Committee on Assassinations (HSCA) menyatakan telah menemukan banyak kekurangan dalam laporan investigasi yang dilakukan oleh FBI dan Komisi Warren. Mereka menemukan bukti bahwa empat tembakan telah dilakukan daripada tiga tembakan oleh Oswald seperti yang tertera di dalam laporan. Sebuah dokumen yang berasal dari masa pra-Perang Vietnam yang berasal dari National Security Agency (NSA) yang terungkap pada tahun 2005, menyebutkan bahwa penyerangan yang dilakukan oleh dua kapal perang Vietnam Utara di teluk Tonkin tidak pernah terjadi.
[SUMBER] Ringkasan dari dua buah buku sbb:
- “On the Trail of the Assassins” (Orelans Parish), Jim Garrison
- “Crossfire: The Plot that Killed Kennedy” (Washington), Jim Marrs
Pada hari yang sama dengan pemakaman JFK, presiden baru Lyndon Johnson beserta beberapa anggota kabinetnya bertemu dengan duta besar Amerika untuk Vietnam Henry Cabot Lodge untuk membicarakan nasib Vietnam, dengan wacana: “Vietnam adalah sebuah krisis yang harus tetap menjadi perhatian meskipun saat Amerika sedang berduka”. Hasil pertemuan disepakati bahwa Amerika akan dengan konsisten membantu pemerintah baru Vetnam dalam “War Against Communism” (terdengar familiar? War Against Terrorism?) dengan cara apapun, termasuk militer. Lalu pada tanggal 26 November 1963, tepat sehari setelah presiden JFK dimakamkan, tanpa menunggu lebih lama lagi, Lyndon Johnson menanda-tangani Memorandum Keamanan Nasional no.273 yang secara prinsip adalah 180 derajat kebalikan dari kebijakan JFK, yakni memerintahkan untuk dilakukannya operasi khusus intelijen di Vietnam Utara yang mutlak bertentangan dengan kebijakan JFK sebelumnya untuk memulangkan seluruh elemen militer AS dari Vietnam.
Lalu pada 8 Agustus 1964, operasi Black Ops merekayasa penyerangan dua kapal berbendera Amerika oleh kapal perang Vietnam Utara di teluk Tonkin dilepas pantai Vietnam. Yang menjadi landasan bagi Lyndon Johnson untuk meminta kongres agar segera memberinya kuasa legislatif untuk membawa kekuatan militer AS dan melakukan ‘serangan balik’ ke Vietnam Utara (sebagaimana layaknya ke Afghanistan dan Irak 37 tahun kemudian). Permintaan Lyndon Johnson langsung dikabulkan kongres Amerika, melalui ‘Dekrit Resolusi Teluk Tonkin’, dan invasi ke Vietnam dimulai. Pada tahun 1966 saja, Lyndon Johnson telah menghabiskan enam milyar dollar untuk membeli tambahan helikopter, jet tempur, bom dari Bell Helicopters, General Dynamics, dan berbagai macam senjata dari para kontraktor pertahanan lainnya. Lyndon Johnson juga mendapatkan tender senilai 1 milyar Dollar dari militer AS yang diberikan kepada perusahaan ‘Brown and Root’ milik keluarganya, berupa pekerjaan pengerukan teluk Cam Ranh di Vietnam untuk kepentingan militer.
Akhir cerita, 220 milyar dollar dihabiskan untuk anggaran pertahanan selama perang Vietnam berlangsung. 5000 unit helicopter hancur, dan 6,5 juta ton bom dijatuhkan di Vietnam. Pada tahun 1979, House Select Committee on Assassinations (HSCA) menyatakan telah menemukan banyak kekurangan dalam laporan investigasi yang dilakukan oleh FBI dan Komisi Warren. Mereka menemukan bukti bahwa empat tembakan telah dilakukan daripada tiga tembakan oleh Oswald seperti yang tertera di dalam laporan. Sebuah dokumen yang berasal dari masa pra-Perang Vietnam yang berasal dari National Security Agency (NSA) yang terungkap pada tahun 2005, menyebutkan bahwa penyerangan yang dilakukan oleh dua kapal perang Vietnam Utara di teluk Tonkin tidak pernah terjadi.
[SUMBER] Ringkasan dari dua buah buku sbb:
- “On the Trail of the Assassins” (Orelans Parish), Jim Garrison
- “Crossfire: The Plot that Killed Kennedy” (Washington), Jim Marrs
John F Kennedy #6 'The Answer'
Post ini merupakan post lanjutan dari sebelumnya, terima kasih.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berdasarkan SOP, dinas intelijen militer Pentagon memiliki kewajiban untuk datang ke lokasi kunjungan presiden paling lambat dua hari sebelum jadual yang telah ditetapkan, untuk mempelajari rute pawai, memeriksa seluruh gedung yang akan dilewati oleh iring-iringan mobil presiden, tidak akan membiarkan ada satu jendela pun dari gedung-gedung tersebut untuk dibiarkan terbuka, menempatkan penembak-penembak jitu militer di gedung-gedung tersebut yang akan memberitahukan melalui radio dalam hitungan detik apabila ada satu jendela pun gedung-gedung tersebut yang dibuka pada saat iring-iringan presiden melintas. Kehadiran militer akan dirasakan pada sepanjang rute pawai presiden, beratus-ratus personel akan ditempatkan di setiap kerumunan, memonitor apapun yang sekiranya dapat membahayakan keselamatan presiden meskipun itu hanya merupakan bungkusan, gulungan surat kabar, mantel yang dikenakan, tidak akan pernah membiarkan ada orang yang membuka payungnya saat presiden melintas, dan tentunya tidak akan pernah membiarkan mobil iring-iringan presiden melambatkan kecepatannya, apalagi mengambil tikungan aneh dari jalan Houston masuk ke jalan Elm. Namun tidak ada satupun dari SOP ini dilakukan pada hari naas itu.
Tak hanya ini adalah pelanggaran mutlak dari Standar Operasi dan Prosedur yang paling fundamen dari dinas intelijen militer untuk memberikan perlindungan yang paling dasar kepada pemimpin negara, namun ini juga merupakan pelanggaran mutlak terhadap konstitusi negara kedaulatan Amerika,dan tentunya merupakan indikasi tak terbantahkan dari adanya konspirasi besar yang melibatkan seluruh jajaran petinggi militer AS, dinas intelijen CIA, dan tentunya pihak-pihak yang diuntungkan dari kudeta berdarah tersebut. Dan satu-satunya elemen yang mampu mengeksekusi sebuah operasi pada level setinggi ini adalah Black Ops dengan restu dari para petinggi militer di Pentagon. Salah seorang dari pejabat Special Ops Pentagon dapat saja dengan mudah meyakinkan Kolonel Reich beserta jajaran Dinas Intelijen Militer 112 untuk tidak melibatkan diri dengan basis alasan tugas tersebut telah diberikan kepada unit intelijen lain dari Pentagon. Tidak ada apapun di hierarki konstitusional Amerika Serikat yang dapat membuat Dinas Intel 112 Texas melepas keamanan presiden di kota Dallas yang masuk dalam yurisdiksinya, kecuali perintah tersebut datang dari Pentagon. Ini adalah kemutlakan absolut yang tidak memiliki opsi alternatif.
Satu lagi bukti yang menguatkan dugaan Kolonel X akan terjadinya persekongkolan tingkat tinggi untuk menyingkirkan presiden JFK, adalah ketika ia mencoba untuk mendapatkan data-data Lee H. Oswald sekembalinya dari Kutub Selatan, ia diinformasikan oleh dinas intelijen bahwa seluruh data Oswald telah dimusnahkan. Ini tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh Special Ops Pentagon, CIA, ataupun dinas intelijen manapun di Amerika. Untuk menghancurkan data-data intelijen (terutama yang menyangkut kasus sangat besar seperti pembunuhan kepala negara) adalah menyalahi aturan, dan jelas-jelas merupakan pelanggaran mutlak terhadap SOP intelijen Amerika. Namun yang paling membuat bulu kuduk merinding adalah ketika Kolonel X menemukan bahwa pada hari naas tersebut, tepat pada jam 12:34 waktu Washington, seluruh sistem komunikasi (termasuk telepon, teleks, dll) mengalami kerusakan yang tidak dapat dijelaskan selama sekitar satu jam. Pada saat yang bersamaan, Presiden Lyndon Johnson yang sedang berada di dalam pesawat menuju Washington, mendapat berita melalui radio dari ruang kendali Gedung Putih, yang memberikan berita bahwa presiden JFK telah tewas ditembak oleh seorang pembunuh.
Dalam sebuah kebetulan yang luar biasa, seluruh kabinet administrasi JFK sedang berada diluar negeri pada saat kejadian penembakan. Tidak ada ruang untuk marjin kesalahan sekecil apapun, tipikal sebuah operasi Black Ops. Seluruh jajaran pejabat intelijen Special Ops di Pentagon tau bahwa Komisi Kerja Warren itu hanyalah sebuah dagelan untuk membohongi rakyat Amerika dan dunia, dimulai dengan penunjukan Allen Dulles (mantan ketua CIA) yang dipecat oleh JFK sebagai pimpinan tim penyelidik di Komisi Kerja Warren. Semua untuk menutup jejak yang akan mengantarkan kita kepada tiga pertanyaan: 1. Kenapa JFK dibunuh?; 2. Siapa yang paling diuntungkan?; dan 3. Siapa yang punya otoritas untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi?.
Pada tahun 1961, JFK menerbitkan Memorandum Aksi Keamanan Nasional no.55, no.56 dan no.57 tertanggal 28 Juni 1961, yang memerintahkan Jendral Lemnitzer selaku Kepala Staff Intelijen Angkatan Darat untuk mengambil alih operasi yang berkode sandi ‘Perang Dingin’ dari CIA. Operasi Perang Dingin adalah operasi khusus intelijen yang misi utamanya adalah untuk melakukan perang baik secara intelijen, maupun perang frontal dengan elemen-elemen komunis di seluruh penjuru dunia. Isi dari Memorandum yang diterbitkan oleh JFK tersebut, adalah agar militer AS mengambil alih kegiatan Operasi Perang Dingin tersebut dari CIA, dan mengkonversinya menjadi sebuah kegiatan intelijen militer yang dilakukan secara rahasia dan damai. Dengan melakukan ini, tidak hanya JFK meminta Dinas Intelijen Militer AS membekukan operasi Intelijen CIA, namun juga secara praktis menutup operasi gabungan intelijen militer dan CIA dalam ‘War against Communism’ yang merupakan lahan basah bagi keduanya. Diperparah dengan pemecatan Allen Dulles dari posisinya sebagai Ketua CIA, tak ketinggalan pemecatan Jendral Charles Cabell sebagai Wakil Ketua CIA, yang semuanya adalah tokoh kramat intelijen Amerika sejak era Perang Dunia II.
Namun yang paling membuat orang-orang marah, adalah keputusan JFK untuk menerbitkan Memo Keamanan Nasional no.263 yang secara praktis mengakhiri keterlibatan AS di konflik di indo-cina. Tidak saja JFK mengakhiri operasi militer dan intelijen Amerika dengan anggaran bernilai milyaran Dollar AS per tahunnya, namun juga membuat para konglomerat pemilik pabrik-pabrik senjata yang telah berkontrak dengan militer AS jantungan. Belum lagi mempertimbangkan pemotongan anggaran yang dilakukan JFK pada bulan Maret 1963, anggaran yang menopang hidup 52 instalasi militer di 25 negara bagian di dalam negeri, dan 21 pangkalan militer AS di luar negeri. Siapa yang paling diuntungkan dengan kematian JFK? Per tahun 1966, Perusahaan manufaktur helikopter ‘BELL Helicopters’ telah menjual 3000 unit edisi terbarunya kepada militer AS untuk digunakan di perang Vietnam. Suatu prestasi yang luar biasa mengingat Bell Helicopters sedang diambang kebangkrutan oleh kewajibannya kepada First National Bank di Boston, terselamatkan oleh wacana yang dilempar CIA untuk mengembangkan Helikopter taktis untuk penggunaan di Indo-cina. Manufaktur jet tempur dan mesin jet General Dynamics yang berlokasi di Fort Worth, Texas juga meraup banyak keuntungan dari penjualan berskuadron-skuadron jet tempur F-111 kepada militer AS untuk digunakan di Perang Vietnam. Anggaran pertahanan Amerika Serikat sejak Perang Vietnam dimulai terhitung sebesar 75 miliar Dollar AS dan perlahan merangkak naik menjadi 100 miliar Dollar pada tahun 1966. Dipastikan sebesar 200 miliar Dollar akan dihabiskan pada anggaran pertahanan sebelum Perang Vietnam usai. Bandingkan dengan tahun 1949, ketika anggaran pertahanan AS hanya sebesar 10 milyar Dollar disebabkan oleh absennya perang.
Prinsip organisasi dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah untuk berperang, dan mendukung peperangan. Dan bisa ditebak siapa yang paling meraup keuntungan darinya. Bukan negara kedaulatan Amerika Serikat, dan pastinya bukan bangsa Amerika, hanyalah segelintir kaum elit penguasa konglomerasi bisnis super strategis yang menjadikan paman sam sebagai langganannya, dengan tagihan bermilyar-milyar dollar yang harus dibayarkan dari anggaran belanja negara AS yang didapatkan susah payah dari pembayaran pajak setiap para warganya. JFK ingin menghentikan perang dingin dan memilih untuk merangkul sang musuh ideologi, ia bahkan menandatangani perjanjian menentang uji coba nuklir dengan Soviet. JFK menolak untuk menginvasi Kuba pada tahun 1962, dan pada puncaknya ia mengambil keputusan untuk memulangkan seluruh personel militer AS di Vietnam dan Laos. JFK berniat untuk mengeringkan kolam milik para elit bisnis dan korps militer Amerika yang bernilai milyaran Dollar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berdasarkan SOP, dinas intelijen militer Pentagon memiliki kewajiban untuk datang ke lokasi kunjungan presiden paling lambat dua hari sebelum jadual yang telah ditetapkan, untuk mempelajari rute pawai, memeriksa seluruh gedung yang akan dilewati oleh iring-iringan mobil presiden, tidak akan membiarkan ada satu jendela pun dari gedung-gedung tersebut untuk dibiarkan terbuka, menempatkan penembak-penembak jitu militer di gedung-gedung tersebut yang akan memberitahukan melalui radio dalam hitungan detik apabila ada satu jendela pun gedung-gedung tersebut yang dibuka pada saat iring-iringan presiden melintas. Kehadiran militer akan dirasakan pada sepanjang rute pawai presiden, beratus-ratus personel akan ditempatkan di setiap kerumunan, memonitor apapun yang sekiranya dapat membahayakan keselamatan presiden meskipun itu hanya merupakan bungkusan, gulungan surat kabar, mantel yang dikenakan, tidak akan pernah membiarkan ada orang yang membuka payungnya saat presiden melintas, dan tentunya tidak akan pernah membiarkan mobil iring-iringan presiden melambatkan kecepatannya, apalagi mengambil tikungan aneh dari jalan Houston masuk ke jalan Elm. Namun tidak ada satupun dari SOP ini dilakukan pada hari naas itu.
Tak hanya ini adalah pelanggaran mutlak dari Standar Operasi dan Prosedur yang paling fundamen dari dinas intelijen militer untuk memberikan perlindungan yang paling dasar kepada pemimpin negara, namun ini juga merupakan pelanggaran mutlak terhadap konstitusi negara kedaulatan Amerika,dan tentunya merupakan indikasi tak terbantahkan dari adanya konspirasi besar yang melibatkan seluruh jajaran petinggi militer AS, dinas intelijen CIA, dan tentunya pihak-pihak yang diuntungkan dari kudeta berdarah tersebut. Dan satu-satunya elemen yang mampu mengeksekusi sebuah operasi pada level setinggi ini adalah Black Ops dengan restu dari para petinggi militer di Pentagon. Salah seorang dari pejabat Special Ops Pentagon dapat saja dengan mudah meyakinkan Kolonel Reich beserta jajaran Dinas Intelijen Militer 112 untuk tidak melibatkan diri dengan basis alasan tugas tersebut telah diberikan kepada unit intelijen lain dari Pentagon. Tidak ada apapun di hierarki konstitusional Amerika Serikat yang dapat membuat Dinas Intel 112 Texas melepas keamanan presiden di kota Dallas yang masuk dalam yurisdiksinya, kecuali perintah tersebut datang dari Pentagon. Ini adalah kemutlakan absolut yang tidak memiliki opsi alternatif.
Satu lagi bukti yang menguatkan dugaan Kolonel X akan terjadinya persekongkolan tingkat tinggi untuk menyingkirkan presiden JFK, adalah ketika ia mencoba untuk mendapatkan data-data Lee H. Oswald sekembalinya dari Kutub Selatan, ia diinformasikan oleh dinas intelijen bahwa seluruh data Oswald telah dimusnahkan. Ini tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh Special Ops Pentagon, CIA, ataupun dinas intelijen manapun di Amerika. Untuk menghancurkan data-data intelijen (terutama yang menyangkut kasus sangat besar seperti pembunuhan kepala negara) adalah menyalahi aturan, dan jelas-jelas merupakan pelanggaran mutlak terhadap SOP intelijen Amerika. Namun yang paling membuat bulu kuduk merinding adalah ketika Kolonel X menemukan bahwa pada hari naas tersebut, tepat pada jam 12:34 waktu Washington, seluruh sistem komunikasi (termasuk telepon, teleks, dll) mengalami kerusakan yang tidak dapat dijelaskan selama sekitar satu jam. Pada saat yang bersamaan, Presiden Lyndon Johnson yang sedang berada di dalam pesawat menuju Washington, mendapat berita melalui radio dari ruang kendali Gedung Putih, yang memberikan berita bahwa presiden JFK telah tewas ditembak oleh seorang pembunuh.
Dalam sebuah kebetulan yang luar biasa, seluruh kabinet administrasi JFK sedang berada diluar negeri pada saat kejadian penembakan. Tidak ada ruang untuk marjin kesalahan sekecil apapun, tipikal sebuah operasi Black Ops. Seluruh jajaran pejabat intelijen Special Ops di Pentagon tau bahwa Komisi Kerja Warren itu hanyalah sebuah dagelan untuk membohongi rakyat Amerika dan dunia, dimulai dengan penunjukan Allen Dulles (mantan ketua CIA) yang dipecat oleh JFK sebagai pimpinan tim penyelidik di Komisi Kerja Warren. Semua untuk menutup jejak yang akan mengantarkan kita kepada tiga pertanyaan: 1. Kenapa JFK dibunuh?; 2. Siapa yang paling diuntungkan?; dan 3. Siapa yang punya otoritas untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi?.
Pada tahun 1961, JFK menerbitkan Memorandum Aksi Keamanan Nasional no.55, no.56 dan no.57 tertanggal 28 Juni 1961, yang memerintahkan Jendral Lemnitzer selaku Kepala Staff Intelijen Angkatan Darat untuk mengambil alih operasi yang berkode sandi ‘Perang Dingin’ dari CIA. Operasi Perang Dingin adalah operasi khusus intelijen yang misi utamanya adalah untuk melakukan perang baik secara intelijen, maupun perang frontal dengan elemen-elemen komunis di seluruh penjuru dunia. Isi dari Memorandum yang diterbitkan oleh JFK tersebut, adalah agar militer AS mengambil alih kegiatan Operasi Perang Dingin tersebut dari CIA, dan mengkonversinya menjadi sebuah kegiatan intelijen militer yang dilakukan secara rahasia dan damai. Dengan melakukan ini, tidak hanya JFK meminta Dinas Intelijen Militer AS membekukan operasi Intelijen CIA, namun juga secara praktis menutup operasi gabungan intelijen militer dan CIA dalam ‘War against Communism’ yang merupakan lahan basah bagi keduanya. Diperparah dengan pemecatan Allen Dulles dari posisinya sebagai Ketua CIA, tak ketinggalan pemecatan Jendral Charles Cabell sebagai Wakil Ketua CIA, yang semuanya adalah tokoh kramat intelijen Amerika sejak era Perang Dunia II.
Namun yang paling membuat orang-orang marah, adalah keputusan JFK untuk menerbitkan Memo Keamanan Nasional no.263 yang secara praktis mengakhiri keterlibatan AS di konflik di indo-cina. Tidak saja JFK mengakhiri operasi militer dan intelijen Amerika dengan anggaran bernilai milyaran Dollar AS per tahunnya, namun juga membuat para konglomerat pemilik pabrik-pabrik senjata yang telah berkontrak dengan militer AS jantungan. Belum lagi mempertimbangkan pemotongan anggaran yang dilakukan JFK pada bulan Maret 1963, anggaran yang menopang hidup 52 instalasi militer di 25 negara bagian di dalam negeri, dan 21 pangkalan militer AS di luar negeri. Siapa yang paling diuntungkan dengan kematian JFK? Per tahun 1966, Perusahaan manufaktur helikopter ‘BELL Helicopters’ telah menjual 3000 unit edisi terbarunya kepada militer AS untuk digunakan di perang Vietnam. Suatu prestasi yang luar biasa mengingat Bell Helicopters sedang diambang kebangkrutan oleh kewajibannya kepada First National Bank di Boston, terselamatkan oleh wacana yang dilempar CIA untuk mengembangkan Helikopter taktis untuk penggunaan di Indo-cina. Manufaktur jet tempur dan mesin jet General Dynamics yang berlokasi di Fort Worth, Texas juga meraup banyak keuntungan dari penjualan berskuadron-skuadron jet tempur F-111 kepada militer AS untuk digunakan di Perang Vietnam. Anggaran pertahanan Amerika Serikat sejak Perang Vietnam dimulai terhitung sebesar 75 miliar Dollar AS dan perlahan merangkak naik menjadi 100 miliar Dollar pada tahun 1966. Dipastikan sebesar 200 miliar Dollar akan dihabiskan pada anggaran pertahanan sebelum Perang Vietnam usai. Bandingkan dengan tahun 1949, ketika anggaran pertahanan AS hanya sebesar 10 milyar Dollar disebabkan oleh absennya perang.
Prinsip organisasi dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah untuk berperang, dan mendukung peperangan. Dan bisa ditebak siapa yang paling meraup keuntungan darinya. Bukan negara kedaulatan Amerika Serikat, dan pastinya bukan bangsa Amerika, hanyalah segelintir kaum elit penguasa konglomerasi bisnis super strategis yang menjadikan paman sam sebagai langganannya, dengan tagihan bermilyar-milyar dollar yang harus dibayarkan dari anggaran belanja negara AS yang didapatkan susah payah dari pembayaran pajak setiap para warganya. JFK ingin menghentikan perang dingin dan memilih untuk merangkul sang musuh ideologi, ia bahkan menandatangani perjanjian menentang uji coba nuklir dengan Soviet. JFK menolak untuk menginvasi Kuba pada tahun 1962, dan pada puncaknya ia mengambil keputusan untuk memulangkan seluruh personel militer AS di Vietnam dan Laos. JFK berniat untuk mengeringkan kolam milik para elit bisnis dan korps militer Amerika yang bernilai milyaran Dollar.
Kamis, 15 Desember 2011
John F Kennedy #5
Post ini merupakan post lanjutan dari sebelumnya, terima kasih.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Garrison menyimpulkan, satu-satunya alasan kenapa taman Dealey Plaza di Elm Street dipilih sebagai titik eksekusi adalah karena merupakan tempat ideal untuk melakukan pembidikan ‘triangulasi’, yakni tehnik penyergapan militer dimana target dilumpuhkan oleh tiga juru tembak yang diposisikan di tiga tempat berbeda disekeliling target membentuk segitiga sama sisi. Tehnik triangulasi ini terkenal sangat efektif karena sang target memiliki kemungkinan untuk lolos yang sangat kecil. Penempatan tiga juru tembak pada tiga posisi menutup seluruh sudut, dan mencakupi seluruh akses yang memungkinan target dapat meloloskan diri. Pada penembakan JFK, satu juru tembak berada di gedung Dal-Tex yang berada tepat di samping Texas Book Depository yang memiliki zona bidik lebih baik (karena tidak terhalang pohon), lalu dua juru tembak ditempatkan di pagar lapangan parkir diatas bukit seperti kesaksian para saksi kunci, memberikan lintasan tembak yang rendah dan kemungkinan paling mematikan. Kemungkinan JFK selamat adalah nol persen.
Namun penemuan yang sangat mencengangkan oleh Garrison, adalah adanya perubahan rute iring-iringan presiden JFK pada saat-saat terakhir. Rute awal yang telah disepakati oleh Dinas Rahasia, adalah membawa iring-iringan mobil presiden JFK menuju Trade Mart melalui jalan Main Street. Namun rute dirobah pada menit-menit terakhir (dan disetujui oleh Dinas Rahasia), membawa iring-iringan mobil melalui jalan Houston, melakukan belokan patah memasuki jalan Elm, yang mengharuskan mobil mengurangi kecepatannya dari rata-rata 40 km/jam menjadi 15-20 km/jam (disebabkan oleh belokan patah tersebut), dan memasuki taman Dealey Plaza dengan kecepatan masih dibawah 20 km/jam, karena mobil paling depan harus menunggu seluruh iring-iringan untuk melakukan putaran masuk ke jalan Elm. Rencana sempurna untuk menggiring JFK masuk kedalam zona pembunuhan dengan kecepatan mobil yang dikurangi. Satu-satunya orang yang memiliki otoritas untuk mengganti rute iring-iringan mobil Presiden adalah Walikota kota Dallas Roy Cabell, yang dalam suatu kebetulan luar biasa adalah adik dari Wakil Direktur CIA, Jendral Charles Cabell yang dipecat oleh JFK pada tahun 1961 karena keterlibatannya di teluk Bay of Pig. Charles lalu kembali bertugas di Washington, dan sempat menyebut JFK sebagai pengkhianat negara. Ketika ia dipanggil oleh Komisi Kerja Warren untuk memberikan petunjuk dari komunitas intelijen, Charles diwawancara oleh anggota panelis Allen Dulles, yang mantan Kepala CIA, dan juga dipecat oleh JFK. Charles pernah bekerja sebagai Deputi Wakil Kepala menjadi bawahan Allen selama sembilan tahun. Suatu kebetulan lagi? Tidak menurut Garrison.
Pada November 1966, Garrison mendapat telepon dari seorang Kolonel militer AS yang menyampaikan keinginannya untuk membantu Garrison dalam investigasinya. Bulan itu juga Garrison terbang ke Washington untuk bertemu dengan sumber yang meminta Garrison untuk menyebutnya hanya dengan panggilan Kolonel X pada laporannya. Kolonel X mengaku sebagai kepala ‘Special Ops’ di departemen intelijen Pentagon pada saat terjadinya pembunuhan JFK. Tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab Special Ops Pentagon adalah melancarkan misi-misi rahasia, kegiatan mata-mata, bahkan suplai senjata (pesawat, peluru, senapan, dll) ke wilayah-wilayah asing dengan tujuan memelihara kepentingan Amerika di luar negeri. Namun yang paling menarik adalah keterangan yang diberikan Kolonel X mengenai sebuah Operasi rahasia dengan kode sandi ‘Black Ops’, yang juga dikenal dengan sebutan ‘Operasi Hitam’. Black Ops adalah Joint Operation (operasi gabungan) antara Pentagon dan CIA, yang memiliki tugas paling vital dan strategis dalam hierarki intelijen di Amerika, dengan misi-misi yang diembankan antara lain: pembunuhan kepala negara, mengorkestrasi kudeta, mengatur pemilihan umum, propaganda dan perang intelijen, semua dengan satu tujuan: yakni untuk pelestarian kepentingan Amerika dan kroni-kroninya di dalam maupun luar negeri.
Melalui operasi Black Ops inilah dilakukan pengkoordinasian dan pengeksekusian banyak kegiatan mata-mata seperti Operation Paperclip yang merekrut paksa dan mengevakuasi ilmuwan-ilmuwan dan personel intelijen Nazi ke Amerika Serikat dengan tujuan transfer teknologi (telah dibahas di bab sebelumnya). Apabila ada situasi politik di belahan dunia manapun pasca-PDII yang bersinggungan dengan kepentingan Amerika dan kroni, bisa dipastikan ada operasi Black Ops disitu. Black Ops membantu manipulasi hasil perhitungan pemilihan umum di Itali pada tahun 1948, memberikan dukungan pada sayap oposisi di Prancis tahun 1949, menggulingkan Quirino di Filipina, menggulingkan Mossadegh di Iran, memanaskan situasi di Vietnam pada tahun 1954, membiayai Agresi Militer Belanda di Indonesia (1946-1948), menggulingkan Soekarno dan membantu transfer kekuasaan Soeharto (1965-1967), mengeluarkan Dalai Lama dari Tibet pada tahun 1959, (dan nantinya merekayasa serangan teroris di WTC pada 11 September 2001). Adalah Black Ops yang menyiapkan rencana kontijensi untuk Amerika agar menginvasi Kuba sebagai lanjutan dari krisis teluk Bay of Pig pada Oktober 1962. Kruschev telah melakukan perannya dengan baik ketika ia mengirimkan kapal-kapal perang pengangkut rudalnya, namun semua sirna oleh JFK yang kecut dan menawarkan perjanjian damai kepada Kruschev. Dan karenanya, JFK telah membuat marah banyak orang penting di Amerika. Berdasarkan keterangan Kolonel X, beliau adalah personel yang ditunjuk JFK pada September 1963 untuk menjadi pimpinan tim kerja pemulangan seluruh personel militer AS dari Vietnam yang ditargetkan paling lambat pada akhir tahun 1965. Salah satu agenda politik paling kontroversial yang dicanangkan JFK semenjak ia berkantor di gedung putih.
Memorandum Keamanan Nasional no.263 tahun 1963 yang diterbitkan JFK berbunyi, “memerintahkan otoritas militer Amerika Serikat untuk dengan segera melaksanakan pemulangan 1000 personel tentara AS selambat-lambatnya pada natal tahun 1963.”
Namun pada awal November 1963, yakni seminggu setelah insiden pembunuhan presiden Vietnam Ngo Dinh Diem di Saigon, dan sekitar dua minggu sebelum terjadinya pembunuhan JFK, Kolonel X dipanggil oleh atasannya yang memberikan dia tugas yang menurutnya agak aneh, yakni: untuk segera terbang ke Kutub Selatan, dimana di dataran tertutup es di ujung selatan dunia ini, ia harus mensupervisi pengawalan militer bagi beberapa tamu VIP Amerika yang sedang melakukan kunjungan. Namun yang paling aneh adalah, ketika Kolonel X dalam perjalanan kembali dari Kutub Selatan, dan transit di Selandia Baru, Kolonel X membaca berita pembunuhan presiden JFK yang menjadi headline di salah satu surat kabar Selandia Baru pada pagi hari 23 November 1963. Ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena meskipun Oswald ditangkap hanya beberapa jam setelah terjadinya penembakan, yakni pada siang hari 22 November, namun Oswald baru dikenakan pasal atas tuduhan telah melakukan pembunuhan presiden JFK pada jam 19:00 menjelang malam oleh kepolisian kota Dallas, yakni sekitar siang hari jam 14:00 pada hari berikutnya (23 November) di Selandia Baru. Namun pada surat kabar pagi (yang dicetak pada dini hari 23 November), surat kabar setempat di Selandia Baru tersebut telah memuat berita lengkap mengenai pembunuhan JFK, termasuk didalamnya profil beserta kisah hidup mendetail dari sang pembunuh Lee H. Oswald (yang belum ditangkap oleh kepolisian kota Dallas saat berita naik cetak), termasuk didalamnya foto diri Oswald, riwayat hidup lengkap termasuk informasi Oswald yang pernah tinggal di Uni Soviet, beserta analisa dan kesimpulan akhir yang menyatakan bahwa Oswald adalah pembunuh tunggal dalam kasus pembunuhan JFK, meskipun masih membutuhkan waktu sekitar 12 jam lagi (terhitung dari berita naik cetak) sebelum Oswald dikenakan pasal pembunuhan presiden pada waktu kota Dallas. Sesuatu yang absurd dan tidak masuk akal, dan berbau operasi Black Ops menurut Kolonel X.
Beliau juga menjelaskan bahwa tugas pengawalan keamanan tamu VIP Amerika di Kutub Selatan tersebut adalah tugas yang dapat dilakukan siapa pun dalam jajaran militer Pentagon, dan bukan pekerjaan yang pantas untuk dilakukan oleh seorang Kepala Special Ops seperti dirinya. Satu-satunya alasan yang masuk nalar Kolonel X, adalah karena apabila ia sedang berada di Washington pada saat pembunuhan JFK, salah satu tugas utamanya adalah memastikan keamanan tambahan pada kunjungan JFK ke Texas, dan ia pasti akan mengintervensi perintah yang diberikan Pentagon kepada Dinas Intelijen Militer Unit 112 di Fort Sam Houston, Texas yang memerintahkan kepada mereka untuk tidak melakukan keamanan tambahan. Bahkan ketika Komandan Dinas Intel Unit 112 Kolonel Maximillian Reich memberikan protesnya karena kota Dallas termasuk dalam yurisdiksinya, Pentagon tidak menggubrisnya dan tetap memberikan perintah agar unit intelnya tidak perlu terlibat dalam kemanan Presiden JFK selama berada di Dallas. Ini adalah pelanggaran yang sangat serius terhadap Standar Operasi dan Prosedur (SOP) pengadaan keamanan Presiden, terlebih lagi di wilayah yang beresiko seperti kota Dallas. Pelanggaran terhadap konstitusi oleh Pentagon, dan tentunya pelanggaran oleh Dinas Rahasia. Bahkan apabila Dinas Intelijen Militer tidak bisa mencegah JFK untuk membuka atap dari mobil yang digunakan olehnya, adalah sebuah rutinitas wajib untuk menempatkan 100 sampai 200 personel disepanjang jalan yang menjadi rute iring-iringan sebagai persyaratan keamanan yang tidak dapat diganggu gugat. Apalagi baru hanya sebulan sebelumnya baru saja terjadi insiden pemukulan terhadap Duta Besar PBB Adlai Stevenson di kota Dallas, dan percobaan pembunuhan Presiden De Gaulle di Prancis.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Garrison menyimpulkan, satu-satunya alasan kenapa taman Dealey Plaza di Elm Street dipilih sebagai titik eksekusi adalah karena merupakan tempat ideal untuk melakukan pembidikan ‘triangulasi’, yakni tehnik penyergapan militer dimana target dilumpuhkan oleh tiga juru tembak yang diposisikan di tiga tempat berbeda disekeliling target membentuk segitiga sama sisi. Tehnik triangulasi ini terkenal sangat efektif karena sang target memiliki kemungkinan untuk lolos yang sangat kecil. Penempatan tiga juru tembak pada tiga posisi menutup seluruh sudut, dan mencakupi seluruh akses yang memungkinan target dapat meloloskan diri. Pada penembakan JFK, satu juru tembak berada di gedung Dal-Tex yang berada tepat di samping Texas Book Depository yang memiliki zona bidik lebih baik (karena tidak terhalang pohon), lalu dua juru tembak ditempatkan di pagar lapangan parkir diatas bukit seperti kesaksian para saksi kunci, memberikan lintasan tembak yang rendah dan kemungkinan paling mematikan. Kemungkinan JFK selamat adalah nol persen.
Namun penemuan yang sangat mencengangkan oleh Garrison, adalah adanya perubahan rute iring-iringan presiden JFK pada saat-saat terakhir. Rute awal yang telah disepakati oleh Dinas Rahasia, adalah membawa iring-iringan mobil presiden JFK menuju Trade Mart melalui jalan Main Street. Namun rute dirobah pada menit-menit terakhir (dan disetujui oleh Dinas Rahasia), membawa iring-iringan mobil melalui jalan Houston, melakukan belokan patah memasuki jalan Elm, yang mengharuskan mobil mengurangi kecepatannya dari rata-rata 40 km/jam menjadi 15-20 km/jam (disebabkan oleh belokan patah tersebut), dan memasuki taman Dealey Plaza dengan kecepatan masih dibawah 20 km/jam, karena mobil paling depan harus menunggu seluruh iring-iringan untuk melakukan putaran masuk ke jalan Elm. Rencana sempurna untuk menggiring JFK masuk kedalam zona pembunuhan dengan kecepatan mobil yang dikurangi. Satu-satunya orang yang memiliki otoritas untuk mengganti rute iring-iringan mobil Presiden adalah Walikota kota Dallas Roy Cabell, yang dalam suatu kebetulan luar biasa adalah adik dari Wakil Direktur CIA, Jendral Charles Cabell yang dipecat oleh JFK pada tahun 1961 karena keterlibatannya di teluk Bay of Pig. Charles lalu kembali bertugas di Washington, dan sempat menyebut JFK sebagai pengkhianat negara. Ketika ia dipanggil oleh Komisi Kerja Warren untuk memberikan petunjuk dari komunitas intelijen, Charles diwawancara oleh anggota panelis Allen Dulles, yang mantan Kepala CIA, dan juga dipecat oleh JFK. Charles pernah bekerja sebagai Deputi Wakil Kepala menjadi bawahan Allen selama sembilan tahun. Suatu kebetulan lagi? Tidak menurut Garrison.
Pada November 1966, Garrison mendapat telepon dari seorang Kolonel militer AS yang menyampaikan keinginannya untuk membantu Garrison dalam investigasinya. Bulan itu juga Garrison terbang ke Washington untuk bertemu dengan sumber yang meminta Garrison untuk menyebutnya hanya dengan panggilan Kolonel X pada laporannya. Kolonel X mengaku sebagai kepala ‘Special Ops’ di departemen intelijen Pentagon pada saat terjadinya pembunuhan JFK. Tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab Special Ops Pentagon adalah melancarkan misi-misi rahasia, kegiatan mata-mata, bahkan suplai senjata (pesawat, peluru, senapan, dll) ke wilayah-wilayah asing dengan tujuan memelihara kepentingan Amerika di luar negeri. Namun yang paling menarik adalah keterangan yang diberikan Kolonel X mengenai sebuah Operasi rahasia dengan kode sandi ‘Black Ops’, yang juga dikenal dengan sebutan ‘Operasi Hitam’. Black Ops adalah Joint Operation (operasi gabungan) antara Pentagon dan CIA, yang memiliki tugas paling vital dan strategis dalam hierarki intelijen di Amerika, dengan misi-misi yang diembankan antara lain: pembunuhan kepala negara, mengorkestrasi kudeta, mengatur pemilihan umum, propaganda dan perang intelijen, semua dengan satu tujuan: yakni untuk pelestarian kepentingan Amerika dan kroni-kroninya di dalam maupun luar negeri.
Melalui operasi Black Ops inilah dilakukan pengkoordinasian dan pengeksekusian banyak kegiatan mata-mata seperti Operation Paperclip yang merekrut paksa dan mengevakuasi ilmuwan-ilmuwan dan personel intelijen Nazi ke Amerika Serikat dengan tujuan transfer teknologi (telah dibahas di bab sebelumnya). Apabila ada situasi politik di belahan dunia manapun pasca-PDII yang bersinggungan dengan kepentingan Amerika dan kroni, bisa dipastikan ada operasi Black Ops disitu. Black Ops membantu manipulasi hasil perhitungan pemilihan umum di Itali pada tahun 1948, memberikan dukungan pada sayap oposisi di Prancis tahun 1949, menggulingkan Quirino di Filipina, menggulingkan Mossadegh di Iran, memanaskan situasi di Vietnam pada tahun 1954, membiayai Agresi Militer Belanda di Indonesia (1946-1948), menggulingkan Soekarno dan membantu transfer kekuasaan Soeharto (1965-1967), mengeluarkan Dalai Lama dari Tibet pada tahun 1959, (dan nantinya merekayasa serangan teroris di WTC pada 11 September 2001). Adalah Black Ops yang menyiapkan rencana kontijensi untuk Amerika agar menginvasi Kuba sebagai lanjutan dari krisis teluk Bay of Pig pada Oktober 1962. Kruschev telah melakukan perannya dengan baik ketika ia mengirimkan kapal-kapal perang pengangkut rudalnya, namun semua sirna oleh JFK yang kecut dan menawarkan perjanjian damai kepada Kruschev. Dan karenanya, JFK telah membuat marah banyak orang penting di Amerika. Berdasarkan keterangan Kolonel X, beliau adalah personel yang ditunjuk JFK pada September 1963 untuk menjadi pimpinan tim kerja pemulangan seluruh personel militer AS dari Vietnam yang ditargetkan paling lambat pada akhir tahun 1965. Salah satu agenda politik paling kontroversial yang dicanangkan JFK semenjak ia berkantor di gedung putih.
Memorandum Keamanan Nasional no.263 tahun 1963 yang diterbitkan JFK berbunyi, “memerintahkan otoritas militer Amerika Serikat untuk dengan segera melaksanakan pemulangan 1000 personel tentara AS selambat-lambatnya pada natal tahun 1963.”
Namun pada awal November 1963, yakni seminggu setelah insiden pembunuhan presiden Vietnam Ngo Dinh Diem di Saigon, dan sekitar dua minggu sebelum terjadinya pembunuhan JFK, Kolonel X dipanggil oleh atasannya yang memberikan dia tugas yang menurutnya agak aneh, yakni: untuk segera terbang ke Kutub Selatan, dimana di dataran tertutup es di ujung selatan dunia ini, ia harus mensupervisi pengawalan militer bagi beberapa tamu VIP Amerika yang sedang melakukan kunjungan. Namun yang paling aneh adalah, ketika Kolonel X dalam perjalanan kembali dari Kutub Selatan, dan transit di Selandia Baru, Kolonel X membaca berita pembunuhan presiden JFK yang menjadi headline di salah satu surat kabar Selandia Baru pada pagi hari 23 November 1963. Ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena meskipun Oswald ditangkap hanya beberapa jam setelah terjadinya penembakan, yakni pada siang hari 22 November, namun Oswald baru dikenakan pasal atas tuduhan telah melakukan pembunuhan presiden JFK pada jam 19:00 menjelang malam oleh kepolisian kota Dallas, yakni sekitar siang hari jam 14:00 pada hari berikutnya (23 November) di Selandia Baru. Namun pada surat kabar pagi (yang dicetak pada dini hari 23 November), surat kabar setempat di Selandia Baru tersebut telah memuat berita lengkap mengenai pembunuhan JFK, termasuk didalamnya profil beserta kisah hidup mendetail dari sang pembunuh Lee H. Oswald (yang belum ditangkap oleh kepolisian kota Dallas saat berita naik cetak), termasuk didalamnya foto diri Oswald, riwayat hidup lengkap termasuk informasi Oswald yang pernah tinggal di Uni Soviet, beserta analisa dan kesimpulan akhir yang menyatakan bahwa Oswald adalah pembunuh tunggal dalam kasus pembunuhan JFK, meskipun masih membutuhkan waktu sekitar 12 jam lagi (terhitung dari berita naik cetak) sebelum Oswald dikenakan pasal pembunuhan presiden pada waktu kota Dallas. Sesuatu yang absurd dan tidak masuk akal, dan berbau operasi Black Ops menurut Kolonel X.
Beliau juga menjelaskan bahwa tugas pengawalan keamanan tamu VIP Amerika di Kutub Selatan tersebut adalah tugas yang dapat dilakukan siapa pun dalam jajaran militer Pentagon, dan bukan pekerjaan yang pantas untuk dilakukan oleh seorang Kepala Special Ops seperti dirinya. Satu-satunya alasan yang masuk nalar Kolonel X, adalah karena apabila ia sedang berada di Washington pada saat pembunuhan JFK, salah satu tugas utamanya adalah memastikan keamanan tambahan pada kunjungan JFK ke Texas, dan ia pasti akan mengintervensi perintah yang diberikan Pentagon kepada Dinas Intelijen Militer Unit 112 di Fort Sam Houston, Texas yang memerintahkan kepada mereka untuk tidak melakukan keamanan tambahan. Bahkan ketika Komandan Dinas Intel Unit 112 Kolonel Maximillian Reich memberikan protesnya karena kota Dallas termasuk dalam yurisdiksinya, Pentagon tidak menggubrisnya dan tetap memberikan perintah agar unit intelnya tidak perlu terlibat dalam kemanan Presiden JFK selama berada di Dallas. Ini adalah pelanggaran yang sangat serius terhadap Standar Operasi dan Prosedur (SOP) pengadaan keamanan Presiden, terlebih lagi di wilayah yang beresiko seperti kota Dallas. Pelanggaran terhadap konstitusi oleh Pentagon, dan tentunya pelanggaran oleh Dinas Rahasia. Bahkan apabila Dinas Intelijen Militer tidak bisa mencegah JFK untuk membuka atap dari mobil yang digunakan olehnya, adalah sebuah rutinitas wajib untuk menempatkan 100 sampai 200 personel disepanjang jalan yang menjadi rute iring-iringan sebagai persyaratan keamanan yang tidak dapat diganggu gugat. Apalagi baru hanya sebulan sebelumnya baru saja terjadi insiden pemukulan terhadap Duta Besar PBB Adlai Stevenson di kota Dallas, dan percobaan pembunuhan Presiden De Gaulle di Prancis.
Langganan:
Postingan (Atom)









